Semangat Rully Kusumawardani Pasien Lupus yang Aktif Sebagai Pengurus Komuitas Lupus Griya Yara

Rully Kusumawardani bersama Rosi Ge FM

Lupus dikenal sebagai penyakit dengan seribu wajah karena gejalanya  yang seringkali menyerupai penyakit-penyakit lainnya. Butuh beberapa kali diagnosa, bahkan pada banyak kasus,  butuh pendapat dari beberapa dokter sampai seorang pasien mengetahui dirinya terserang lupus.

Penyakit Lupus adalah salah satu bentuk penyakit autoimun, artinya sistem kekabalan tubuh (imun) malah menyerang sel-sel, jaringan dan organ sehat tubuh itu sendiri. Kondisi  ini  terjadi terus menerus sehingga menimbulkan peradangan kronis.

 

Peradangan yang disebabkan oleh lupus dapat mempengaruhi  sistem tubuh diantaranya: sendi, kulit, ginjal, sel darah, otak, jantung dan paru-paru sehingga menimbulkan banyak sekali gejala atau manifestasi klinis yang beragam.

Pada banyak kasus seorang pasien lupus harus mengkonsumsi obat penekan kekebalan tubuh seumur hidup, namun ada juga pasien yang bisa survive dan mencapai kondisi stabil sehingga tidak lagi meminum obat. Kondisi ini dinamakan remisi.

 

Rully kusumawardani adalah satu dari sekian banyak pasien yang berhasil melalui saat-saat berat setelah didiagnosa lupus pada pertengahan 2011.  Sebelum dokter bisa memastikan penyakitnya, Rully  yang waktu itu baru berusia 21 tahun selama beberapa waktu harus bolak-balik ke dokter karena mengalami pembengkakan pada sendi dan ruam-ruam di kaki.

 

Kata Rully  yang juga aktif sebagai pengurus komunitas lupus Griya Yara, ada tiga hal yang menjadi penyebab munculnya peyakit ini, yaitu faktor genetik

(keturunan), faktor hormon estrogen, dan faktor lingkungan. Faktor yang kedua inilah menurut Rully yang menjadi  alasan mengapa  hampir 90% penderita lupus adalah perempuan usia produktif.

 

Setelah diagnosa dokter pada 2011, secara kebetulan Rully juga mengalami kecelakaan dan patah tulang leher. Peristiwa ini mengharuskannya beristirahat total dan mengambil cuti kuliah selama 4 bulan.

 

Mulai kurun 2011 hingga 2014 lajang kelahiran Madiun 19 Oktober 1990 ini harus terus mengkonsumsi obat lupus untuk menyetabilkan kondisinya. Barulah setelah 2014 ia dinyatakan remisi, yaitu kondisi tubuh stabil tanpa mengkosumsi obat. Namun sebagai odapus, Rully harus benar-benar menjaga kondisinya karena penyakit ini bisa kambuh kapanpun saat si pasien sedang drop.

 

Selain harus disiplin meminum obat , menurut Rully hal penting lain yang harus diperhatikan adalah menjaga makanan, istirahat, menghindari paparan sinar matahari secara langsung dan tidak boleh stres. Pasrahkan dan percayakan semuanya kepada Tuhan. Rully yakin Tuhan yang memberi, maka Tuhan pula yang akan mengangkat penyakitnya.

 

Motivasi lainnya juga ia dapatkan dari rekan-rekannya di komunitas  Griya Yara yang terdiri dari para pasien lupus dan sejumlah relawan di Madiun. Kata lulusan manajemen universitas Brawijaya ini, selama ini Griya Yara cukup aktif untuk mengenalkan kepada  masyarakat tentang penyakit lupus  melalui berbagai kegiatan.

 

Ia sendiri bersyukur dengan keberadaan rekan-rekannya di komunitas ini , sehingga mereka bisa saling memberikan support terhadap kondisi yang dihadapi.  Ia berpesan kepada sesama odapus lainnya agar tidak patah semangat, jangan menolak kondisi , dan tetap rutin mengkonsumsi obat untuk meringankan gejala sehingga  bisa mencapai remisi.

 

 

Reporter : Rosi Ge FM

 

 

 

Anak Madiun. Madiun Kota KarismatikPasien LupusPengurus Komunitas Lupus Madiun Griya YaraRully Kusumawardani
Comments (0)
Add Comment