Alasan Lutfi Karisma Memilih Menjadi Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus

Lutfi Karisma, Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus

Tidak semua orang memiliki cukup keahlian sekaligus kesabaran untuk menjadi seorang shadow teacher atau guru pendamping anak berkebutuhan khusus. Lutfi Karisma adalah satu diantaranya. Lulusan Sarjana Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini selama dua tahun terakhir menjalani profesi sebagai guru pendamping anak berkebutuhan khusus di SD Negeri 2 Winongo.
Lajang kelahiran 26 November 1992 ini mengatakan, di kota Madiun terdapat 3 sekolah inklusi. Yaitu sekolah umum yang menyediakan fasilitas sekaligus guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), sehingga para ABK bisa bersekolah berdampingan dengan anak-anak lainnya. Saat ini ada 1 sekolah inklusi di tiap kecamatan, Manguharjo, Kartoharjo dan Taman.
Lutfi sendiri bertugas mendampingi satu ABK yang duduk di kelas 4. Ketika ditanya, apa yang membuat ia memilih profesi ini, Lutfi menjawab karena panggilan hati. Kalau bukan kita, siapa lagi yang seharusnya peduli, demikian katanya. Ia mengaku tugas akhirnya ketika masih menjadi mahasiswa juga berhubungan dengan penanganan terhadap anak berkebutuhan khusus. Selain itu lajang bertubuh mungil ini terdorong menjadi guru pendamping ABK karena terinspirasi oleh Kak Seto tokoh pemerhati anak serta Adriana Kustandar, dosen UI yang cukup concern dengan dunia ABK.
Banyak suka duka yang dirasakan Lutfi selama menjalankan profesinya. ABK yang awalnya sama sekali tidak faham akan suatu materi pelajaran, setelah ia dampingi sekian waktu kemudian mengalami kemajuan, hal itu merupakan hal luar biasa yang menurutnya sangat membahagiakan.
Selain peran guru, peran orangtua ABK sangat berpengaruh terhadap proses kemajuan pembelajaran. Orangtua tidak boleh malu, harus yakin dan memberikan kepercayaan terhadap si anak. Komunikasi antara orangtua dengan guru di sekolah juga sangat penting untuk memastikan ABK mendapatkan perhatian sekaligus perlakuan yang dibutuhkan.
Menurut sulung dari 4 bersaudara ini, keberadaan ABK di sekolah inklusi bisa membantu si anak bertumbuh kembang lebih cepat mengikuti anak-anak lainnya. Di sisi lain, anak-anak normal juga bisa belajar menerima dan menghormati temannya yang berbeda. Sayangnya, karena masih tergolong baru, fasilitas yang disediakan bagi ABK masih sangat terbatas sehingga hanya anak berkebutuhan khusus tertentu saja yang bisa diterima sekolah. Sebagai contoh, sarana semacam buku atau perangkat dengan huruf braile belum tersedia sehingga anak tunanetra tidak bisa diterima.
Ia berharap kedepan, pemerintah akan bisa menyediakan fasilitas yang lebih lengkap bagi ABK sehingga siapapun bisa diterima di sekolah inklusi.

 

 

Reporter : Rosi Ge FM

anak madiunGuru Pendamping Anak Berkebutuhan KhususLutfi Karismamadiun kota karismatik
Comments (0)
Add Comment