D’MASIV Akhirnya Memutar Waktu Demi Mewujudkan Karya Terbaru

376

“Elo akan bikin lagu yang hits ketika sedang lapar,” demikian sebuah wejangan dari “presiden reggae” Tony Q Rastafara yang diingat dengan sangat baik oleh Rian Ekky Pradipta, vokalis salah satu band pop terbesar Indonesia saat ini, D’MASIV. Rian bersama tiga kerabat dan seorang saudara kandungnya, Nurul Damar Ramadan (gitar), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), Wahyu Piadji (drum), dan Dwiki Aditya Marshall (gitar) memang sempat menjadi grup musik yang tidak mengantongi tabungan finansial dengan bilangan sejahtera. Meskipun mereka – pertama kali muncul menggunakan nama Massive – merupakan juara langganan di festival-festival musik berhadiah.

SIDEBAR
Saksikan Video Musik 360 Derajat dari D’MASIV, “Dengarlah Sayang” »
“Jauh sebelum festivalnya dimulai, kami sudah percaya diri bakal menang. Bahkan sebelum diumumkan pemenangnya, kami sudah merencanakan bakal diapakan hadiahnya,” kenang Rian dengan bangga. Saat ditanya apa yang membuat mereka begitu yakin dapat menjadi pemenang, ia membocorkan, “Bens Leo pernah bilang, “band yang siap adalah band yang sering latihan”. Kami memang sering sekali latihan. Sempat teman mengejek kalau kami latihan sampai seribu shift, tapi kalau rekaman hanya sepuluh shift.”

Rekaman yang dimaksud merupakan album Menuju Nirwana (2006), kumpulan karya pertama dan satu-satunya dari kuintet ini saat masih menggunakan nama Massive. “Kami sempat down waktu itu. Karena ketika sebelum punya album justru kami sering manggung, tapi setelah punya album malah jarang manggung,” terang Rayyi. Rian pun menambahkan, “Album itu nggak laku sama sekali. Hasilnya jelek, menurut kami album itu hancur. Kami waktu launching saja tidak percaya diri.” Buruknya prestasi Menuju Nirwana memaksa Massive untuk kembali mencari mata pencarian lewat hadiah festival musik. Lalu pada 2007, mereka pun dipertemukan dengan festival musik bernama A Mild Live Wanted.

Sumber Vemale / RISNA

Anda mungkin juga berminat
Loading...